GOGIRL! WEEKEND WEB STORY: POPCORN DAN LONTONG SAYUR

May 12, 2018

POPCORN-DAN-LONTONG-SAYUR

sumber foto: shutterstock

 

Aku menyebutkan ice chocolate tanpa melihat menu pada pelayan yang menghampiriku. Roni sudah datang duluan, duduk dihadapanku memakai kemeja biru langit.

 

 

“Aku fansnya Willy Aster,” katanya padaku.

Roni mengajakku bertemu di cafe tempat biasa kami bertemu. Ia ingin membicarakan entah-disebut-apa secara langsung denganku. Mungkin kau bisa menyebutnya sebagai penjelasan kenapa ia akan menikah yang setahuku secara tiba-tiba di tiga bulan masa rehat kami. Kami putus tiga bulan yang lalu dengan tidak mengatakan putus, hanya memberi waktu untuk masing-masing dari kami menenangkan diri. Entah menenangkan diri dari apa. Mungkin hanya rehat dari kebosanan hubungan kami yang sudah lima tahun lamanya.

Aku sendiri lupa apa pembicaraan pertama kami sampai nama Willy Aster muncul. "Maksudnya?"

“Aku pacaran sama kamu karna kamu manajernya Willy Aster, jadi aku bisa sering ketemu Willy Aster,” katanya dengan menatap gelas minumannya.

“Ha ha.” Aku terkekeh lima detik. Lalu sadar ini tidak untuk kutertawakan karena aku adalah korban.

“Tapi jujur, lama-lama aku sayang sama kamu.”

“Jadi awalnya enggak?”

“Sedikit.”

“Sekarang kamu mau nikah sama temen SMP kamu karena aku udah bukan manajernya Willy Aster?”

“Kamu udah nggak jadi manajernya sejak dua tahun yang lalu. Jadi, bukan karena itu juga.”

“Aku masih nggak percaya kamu fansnya Willy Aster.”

“Aku selalu dengerin lagunya Willy Aster, tapi di rumah.”

“Hah...” Aku menaruh tangan kananku di meja, tidak kuat untuk sekedar meraih gelas ice chocolate-ku yang sudah datang.

“Album limited bertandatangan yang selalu aku minta buat keponakan aku itu sebenernya buat aku.”

Mulutku terbuka satu setengah senti.

“Fanclub di facebook, twitter, instagram, sama website juga aku yang bikin.”

“Apah?!” Aku lupa bernafas selama lima detik. “Gilaaaa!!! Makanya fanclub itu selalu update karena info-infonya kamu tahu dari aku? Iya?”

“Iya. Kurang lebih gitu.”

Kuhabiskan segelas ice chocolate dihadapanku, lalu meraih tasku. “Aku harus pulang buat berendam di air hangat.”

 

***

 

                Seorang wanita muda duduk di balik meja konferensi pers dengan senyum yang dinantikan oleh banyak orang. Kilatan cahaya kamera menerpa wajahnya yang terukir make-up sempurna yang dipoles oleh make-up artis profesional. Aku menonton dan mendengar sepenuhnya kata demi kata yang Ia ucapkan lewat layar kaca di hadapanku. Aku duduk di atas sofa yang umurnya lebih tua dari ibuku. Sofa dengan banyak gigitan tikus di kain yang melapisinya. Yang berada di tangan kananku bukan lah popcorn atau softdrink, melainkan semangkuk lontong sayur yang tadi pagi belum selesai kuhabiskan.

Aku bukan fans, juga bukan haters-nya. Aku hanya, mantan majikannya. Namanya Imah. Ia adalah asisten rumah tangga yang baik. Baik tidaknya tidak akan menyurutkan semangatku untuk mengikuti perkembangannya di dunia hiburan.

                Jika ia penyanyi mungkin ia ditemukan oleh pencari bakat, atau kebetulan lagu pertama yang ia nyanyian adalah lagu yang disukai sejuta umat. Tapi ia adalah pemain film. Terlebih dari aktingnya yang kata orang sangat keren, aku hanya ingin tahu jalan apa yang ia lewati untuk mencapai posisi itu. Sampai saat ini aku belum tahu apa yang membuatnya bisa jadi seperti sekarang. Aku penasaran siang dan malam tentang apa yang ia lakukan, tapi terlalu gengsi untuk sekedar bertanya pada tetanggaku atau penjaga warung yang akrab dengannya.

                Saat ini ia tengah mempromosikan film terbarunya. Film yang diadaptasi dari sebuah novel. Sebuah sinyal bahwa film ini akan laku di pasaran. Kurang dari dua minggu kedepan, aku yakin ia akan menjadi bintang tamu di semua acara talk show. Aku tidak beniat untuk menonton langsung di studio dan bertepuk tangan saat ia bercerita atau memberikan motivasi. Aku hanya akan dengan setia menunggu di depan televisi 32ich ini.

Dulu aku melihatnya memakai produk pemutih, tapi sekarang kulit kuning langsatnya di sebut-sebut sebagai kulit cantik khas indonesia. Aku menunduk melihat kulitku yang terbilang cerah. Untuk apa kulit cerah ini kalau aku tidak punya pekerjaan. Bangkrutku ini memang bukan bangkrut ala sinetron sampai aku harus kehilangan tempat tinggal. Aku masih tinggal di rumah turun-temurun ini, masih dapat makan tiga kali sehari yang akan menaikkan berat badan. Bangkrutku ini bangkrut kepercayaan diri.

Hari ini sudah hampir satu minggu sejak pertemuanku dengan Roni. Alasan putusnya hubunagan kami yang sebenarnya adalah kami sama-sama lelah, bukan karena Willy Aster, bukan hanya. Sebenarnya aku sedikit berharap hubungan kami akan membaik, tapi rasa lelah dengan satu sama lain seperti tidak bisa hilang. Perlu dua hari penuh untuk menghilangkan kekagetanku bahwa ia adalah fans Willy Aster. Ia bahkan menonton konser band rock dan musik jazz bersamaku. Tak ada segarispun urat di wajahnya yang menggambarkan ia fans Willy Aster.

Hari pernikahan Roni sekitar dua minggu lagi. Aku tak habis pikir ia setega itu mengundangku. Apa undangan perikahan pink fuschia di meja ini hanya basa-basi dan ia tidak benar-benar berharap aku datang? Ah, aku sangat suka pink fuchia. Ini bisa jadi inspirasi undangan pernikahanku kelak. Aku harus menggunakannya sebagai contoh. Mungkin bisa kusimpan dengan mencoret nama mempelai laki-lakinya.

                Telepon berdering, mungkin sudah lama tapi aku baru menyadarinya. Telepon tua ini sudah usang, bunyinya pelan sekali seperti berbisik. Aku butuh keadaan yang fokus untuk memastikan ada telepon atau tidak.

                Willy Aster menelfonku. Tepat sekali untuk melengkapi suasana ini.

                "Kak Jen, lagi ngapain? Lagi sibuk nggak?" Tanyanya. Pertanyaan yang melambangkan banyak hal. Ia tahu aku sedang santai. Ia juga sedang tidak sibuk atau terburu-buru dengan pembukaan seperti ini. Terdengar dialog ini sudah ia siapkan masak-masak, untuk pembukaan pembicaraan utama yang penting. Dengan basa-basi begini, menandakan hubungan kami sedang tidak dalam keadaan yang cukup baik untuk langsung ke point utama.

                "Lagi istirahat aja di rumah, kan hari minggu," kilahku. Seakan aku sibuk di hari kerja dan butuh istirahat. Padahal untuk ingat bahwa ini hari minggu saja sudah bagus. Dan itu juga karena tayangan di TV yang menyadarkanku ini hari minggu. Biasanya aku lupa hari bahkan lupa membedakan siang dan malam karena terlalu banyak di rumah.

                Ia terdengar menarik nafas. "Kak Jen lagi manajerin artis lain nggak?

                Astaga Aster. Kalau saat ini kami seakrab dulu, aku pasti akan menertawainya. Ia bahkan sudah hampir dua tahun tidak mengeluarkan album atau pun single baru. Melihat pasar musik sekarang yang sulit diprediksi dan atitute Aster yang memusingkan, kukira ia juga tidak mengambil job off air kecuali mungkin acara ulangtahun sepupunya. Kalau ia punya manajer baru yang menggantikan aku, ia setidaknya akan muncul sekali dua kali di acara infotainment. Dan kurasa ia juga hanya pura-pura tidak tahu kalau aku sedang tidak memanajeri siapa pun.

Willy Aster, seorang penyanyi remaja yang punya hobi galau dan moodnya naik turun. Umurnya masih belasan tahun. Ia rehat dari dunia hiburan dan memakai alasan ingin fokus sekolah, padahal ia tidak pernah benar-benar menyukai satu pun pelajaran di sekolahnya. Bernyanyi hanya ia anggap sebagai hobi. Sedangkan aku, memanajerinya adalah profesiku yang menjadi tumpuan mencari nafkah.

                Sekitar dua tahun yang lalu kami memutuskan kontrak. Saat itu setelah beberapa bulan masa sulit yang kami lewati. Nilai-nilai Aster di sekolah turun drastis, padahal jadwal manggungnya tidak banyak karena memang album terakhir yang ia keluarkan tidak sebooming album sebelumnya. Terjadi juga sedikit konflik di antara kami berdua. Aku menyarankan Aster untuk bergabung dengan sebuah konser kolaborasi dengan beberapa penyanyi lain seumurannya. Tapi ia menolak manja dengan alasan ada geng cewek-cewek yang tidak satu visi misi dengannya. Apa pula penyanyi ABG punya visi misi? Apa mereka mau mengadakan koalisi calon legislatif?

                Setelah kepergianku, setahuku ia dimanajeri oleh Ibunya, tapi tidak banyak terdengar perkembangan karirnya. Dan aku sempat memanajeri satu penyanyi dan satu pemain FTV. Tapi ya begitulah, entah karir mereka yang tidak berjalan lancar, atau mereka lebih menyukai dimanajeri anggota keluarga mereka, atau memang kami tidak ada kecocokan untuk bekerjasama.

                “Kamu mau aku manajerin lagi?” Entah apa yang ada di pikiranku. Aku merasa ini pertanyaan yang tepat.

                “Iya sih sebenernya. Kak Jen tahu nggak sih. Aku tuh sebenernya sempet dapet manajer baru, tapi aduuuhhh orangnya tuh reseh banget Kak Jen.”

                “Mama kamu?”

                “Iya awalnya emang Mama aku. Tapi Mama aku kan nggak tahu gimana ini gimana itu, gimana caranya biar aku tetep eksis atau semacamnya. Jadi ya kita rekrut orang gitu Kak Jen, kenalannya Tante aku. Tapi orangnya reseh banget, masa dia nyuruh aku pura-pura pacaran sama Zaki yang artis pendatang baru itu, suruh aku buat pura-pura deket gitu. Ih males banget, emang aku cewek apaan. Si Zaki juga cuma keren mukanya doang, aslinya sih nggak ada cool-coolnya sama sekali, cenderung norak nggak jelas gitu.”

                Ya, ini Willy Aster yang kukenal. Aster yang selalu mengungkapkan apa yang ia rasakan. Unek-unek lebih tepatnya. “Tapi si Zaki itu ganteng sih Ter, menurut aku. Muka gantengnya nggak ngebosenin.”

                “Iya sih, tapi ya mau gimana lagi, ngebetein gitu sih anaknya.”

                “Emang kamu ketemu dia dimana?” Setahuku Aster sudah lama tidak muncul di televisi.

                “Ketemu di ulangtahunnya Rose.”

 

***

 

                Sore ini langit terlihat cerah dengan bentuk awan yang terlukis indah. Terdengar suara beberapa burung yang ingin pulang ke sarang mereka. Aku baru pulang dari rumah Willy Aster, membicarakan dimulainya lagi karirku sebagai manajernya. Dan juga apa saja hal-hal yang harus kami lakukan untuk setidaknya mengembalikan pamor Aster yang sedang redup.

Imah datang ke rumahku. Ia berdiri di depan pintu pagar rumahku, entah sudah menunggu berapa lama. Ia membawa mobil besar khas artis. Mobilnya diparkir agak jauh dari rumahku. Mungkin untuk menghormatiku. Ia memang baik hati. Aku memang selalu mengakui kalau ia baik hati.

Kami duduk di kursi tamu. Aku bertanya apa ia sudah lama menugguku, ia jawab belum lama. Tapi firasatku mengatakan ia sudah lama menuggu. Ia meminta maaf karena baru sekarang berkunjung ke rumah ini. Ia juga membawa beberapa kantong buah. Ia memakai baju sewajar-wajarnya agar tidak terlalu terlihat seperti artis. Tapi sewajar-wajarnya itu tetap saja ia terlihat keren. Biarpun itu hanya celana jeans dan kaus coklat muda, aku tahu itu bermerek. Bukan seperti apa yang dulu ia pakai saat bekerja di sini. Aku sebenarnya memang sempat menyadari bahwa Imah memiliki komposisi tubuh yang cukup bagus, namun tidak sampai aku langsung terbayang ia akan menjadi artis terkenal saat hari-harinya bekerja di sini.

Mengalir begitu saja, tanpa aku bertanya dan tanpa Imah membuat sebuah pembukaan, ia bercerita. “Aku nggak sengaja nemu Non, kartu nama yang Non buang. Jadi sebenernya kartu nama yang Non buang aku kumpulin. Terakhir ada kartu nama dari Belia Entertainment, mereka perusahaan baru. Non nolak tawaran mereka buat jadiin Willy Aster pemeran utama di sebuah film.”

Aku bahkan tidak ingat dengan nama Belia Entertainment sangking banyaknya kartu nama yang kubuang.

“Aku awalnya mau nyoba ke alamat yang ada di kartu nama itu. Tapi kebetulan orang Belia Entertainment itu emang kekeuh dateng terus ke rumah ini nanyain Non buat bujuk Non, tapi Non kan nggak mau ketemu. Katanya dia juga uda sering bujuk Willy Aster tapi ditolak juga. Lama kelamaan aku sampein keinginan aku buat ikut casting. Awalnya nggak langsung mendadak aku dapet film Non. Aku akhirnya dateng ke alamat Belia Entertainment yang ada di kartu nama itu, tapi aku ketipu sama salah satu karyawan di sana. Aku hampir dijual. Uang gajiku di sini juga hampir habis diambil semua sama dia. Setelah aku berhasil selamet aku ketemu sama mas yang suka kesini itu. Aku cerita semuanya ke dia kalo aku ditipu. Terus dia minta maaf. Dia langsung lapor ke Bosnya, terus karyawan yang nggak bener itu akhirnya dipecat. Supaya masalahya nggak beber kemana-mana sebagai permintaan maaf aku dikasih kesempatan ikut beberapa kelas akting. Nah disitu semuanya mulai Non. Proses sampe aku dapet peran kira-kira hampir dua tahun.”

Ternyata ia tidak ikut sejenis kompetisi menyanyi seperti yang kupikir sebelumnya. Ah, aku terlalu gundah mendengar semua yang ia alami berawal dari kartu nama yang kubuang. Selalu kubuang. Aku seperti membuang sebuah masa depan. Membuang sebuah kesuksesan.

Willy Aster akan menangis jika mendengar hal ini. Ia memiliki hati yang begitu sensitif. Ia mungkin tidak akan marah padaku yang membuang kartu nama. Ia yang menyuruhku untuk menolak semua tawaran main film, sinetron, dan semacamnya. Ia sangat takut dibilang aji mumpung oleh para haters. Siapa yang peduli dengan haters kalo nyatanya akan jadi seperti ini. Aku memang tidak menjamin jika Willy Aster saat itu menerima tawaran main film Ia akan sesukses Imah. Tapi kartu nama itu masih terasa menyakitkan terlepas dari aku sedikit bahagia melihat apa yang telah didapat Imah.

Aku dan Willy Aster berada di perahu yang sama, bukan untuk menjatuhkan tokoh utama seperti di sinetron, tapi kami sama-sama jatuh dan harus bangkit. Merasa bahwa hal dalam diriku lebih buruk dari hari kemarin adalah hal yang sangat menyedihkan. Aku membuang sesuatu yang bisa menghantarkan seseorang ke meja konferensi pers peluncuran sebuah film.

Aku semakin menyadari perubahan ini. Perubahan ini juga semakin menyadarkanku. Aku tidak iri. Tidak terlalu iri lebih tepatnya. Jika ini adalah lintasan lari maraton, Imah sudah berlari cepat meningkalkanku yang berjalan di tempat. Aku sudah bosan mendengar kisah sukses. Bahkan sebelum mendengar kisah Imah, aku merasa bosan. Aku sudah mendengar ratusan motivasi di acara talkshow. Mengikuti kisah sukses mereka dari awal sampai akhir. Tapi sudah cukup bagiku untuk melihatnya. Aku hanya akan melihat perubahanku sendiri. Terlepas dari semua itu, aku memang harus mendapatkan penghasilan, setidaknya untuk membeli sofa baru.

Aku menanyakan bagaimana kabar Ibunya Imah. Imah menanyakan kabar tetangga kami, satpam komplek, ibu penjaga warung, tukang sayur, dan kami tenggelam dalam pemibicaran kabar-kabar lainnya.

"Kamu mau minum apa Im?" aku lupa bahwa Imah adalah tamu.

"Nggak usah repot Non."

"Nggak papa kok. Uda cerita banyak gini pasti kan haus." aku beranjak menuju dapur.

"Saya ikut boleh ya Non? Kangen sama dapur."

 

***

 

Enam tahun yang lalu di rumah yang sama, aku menyalakan TV di pagi hari. Menyalakan channel internasional karna waktu itu aku masih berlangganan TV kabel. Aku memangku setoples besar popcorn sebagai teman menonton TV. Rasanya tak lengkap tanpa softdrink. Aku masuk ke dapur dan mengambil salah satu softdrink yang telah mengantri di dalam kulkas. Softdrink di tanganku sempat akan jatuh saat aku terkaget karna Imah yang dengan tanpa suara asik makan lontong sayur di pojokan.

                "Makan Non," ia menawariku. Basa-basi.

                "Makan popcorn aja deh, nanti kalo udah siang baru makan besar. Itu lontong sayur beli dimana Im?"

                "Beli di samping rumah Pak RW, Non."

                "Ooh," aku sendiri tak tahu rumah Pak RW dimana.

 

***

 

 

 *Cerita fiksi ini merupakan karya orisinal penulis kontributor Gogirl!, penayangan sudah mendapatkan persetujuan dari penulis. Dilarang mengutip dan menyadur tulisan dari website ini. Bagi yang ingin mengirimkan karya tulis cerita untuk WEB STORY GOGIRL!, silahkan kirimkan ke esnoe.metha@gogirl.id, dengan format Word A4, font Calibri 11, spasi 1, minimal 900 kata, beserta data diri. Cerita harus orisinil hasil karya penulis, dan tidak menyinggung SARA. Cerita yang akan ditayangkan akan dihubungi oleh redaksi dan mendapatkan honorium. Cerita yang lewat dari 4 bulan tidak ditayangkan atau tidak dihubungi oleh pihak redaksi, maka berhak untuk mengirimkan ke media lain atau menggunakannya untuk kepentingan lain.* 

 

 

Written by FFT
Share to:

Comments

0 Comments
Sort By   
Silahkan login untuk menulis komentar