GOGIRL! WEEKEND WEB STORY: PERAN

March 11, 2018

PERAN

sumber foto: shutterstock

 

Lila terbangun dengan rasa asing yang sangat. Sebuah dinding kamar yang berwarna putih. Sangat berbeda dengan corak bunga mawar yang biasa menyambutnya di pagi-pagi sebelumnya. Juga lemari kayu yang menjulang tinggi hampir berbenturan dengan langit-langit kamar. Jika dia masih berusia enam tahun, dia sangat yakin akan merasa takut. Mungkin saat malam, lemari itu akan mengeluarkan monster seperti film yang pernah ditontonnya. Atau jangan-jangan lemari itu sekarang berganti isi, hantu dalam lemari misalnya, pemikiran itu membuatnya bergidik ngeri. Sepertinya ia terlalu banyak menonton film horor.

 

 

                  Pintu kamarnya berderit terbuka disusul sebuah suara yang sangat asing. “Kamu sudah bangun?”

                  Lila mencari-cari dalam ingatannya siapa laki-laki separuh baya yang masuk ke dalam kamarnya dan beberapa menit kemudian dia berseru tak percaya.

                  “Oh…ya.” Angguknya pelan.

                  “Kamu bisa turun sebentar lagi untuk sarapan, kami punya kebiasaan sarapan bersama setiap pagi.”

                  Laki-laki itu menutup pintu setelah yakin Lila mengangguk.

                  “Ya ampuuunn…apa sebenarnya yang aku lakukan, kenapa aku harus setuju sama usul Bunda.” Lila mengacak-acak rambutnya.

                  Ingatannya kembali ke seminggu yang lalu ketika Bundanya bicara serius dan menjanjikan mengabulkan keinginan Lila dengan syarat dia mau membantu. Florence. Itu keinginan Lila. Dia sangat ingin berjalan-jalan ketempat itu sejak lama. Bangunan-bangunan di Florence yang ia lihat di mesin pencari membuatnya ingin mengunjungi tempat itu. Dan tanpa banyak berpikir ia langsung mengiyakan keinginan Bundanya. Sebuah keinginan yang jika Lila pikir-pikir sangat aneh.

                  Ia lantas berjalan malas ke kamar mandi yang ada di kamarnya. Setidaknya ia harus mencuci wajah dan sikat gigi.

                  Saat sampai di meja makan, seorang wanita berwajah sendu menyambutnya.

                  “Naila, sini sayang,” panggilnya lembut.

                  Lila tersenyum kikuk, untuk beberapa hari ke depan dia harus terbiasa dengan nama itu.

                  “Naila, mau makan apa?” tanya wanita itu setelah gadis kesayangannya duduk di sebelahnya.

                  “Emmm…roti aja Tan..” Lila berhenti berkata ketika dilihatnya kening wanita di depannya berkerut, “maksudnya Naila mau roti aja, Ma,” lanjutnya sambil tersenyum kikuk.

                  Tangan wanita di depannya—Mama, mengambil sehelai roti tawar dan siap mengoleskan selai kacang.

                  “Ayo dimakan Nai,” Mama mengulurkan setangkup roti pada Lila. Pagi itu, sarapan teraneh dalam hidup Lila. Ia sering mendapati Mama memandanginya dengan tatapan aneh. Entah rindu atau sedih. Sedangkan Papa, hanya menekuri roti yang ada di piringnya. Tak ada obrolan apapun. Lila yang biasanya cerewet tak berani membuka suara.

                  Selepas sarapan, Mama memiih ke kebun belakang rumah. Lila memilih mengikuti. Banyak bunga-bunga yang sedang mekar.

                  “Ini cantik,” komentar Lila jujur.

                  “Kamu menyukainya?” Mama menanyainya sambil tersenyum.

                  Lila mengangguk. Di rumahnya, hanya ada tanaman buah musiman. Bunda tak terlalu suka merawat bunga.

                  “Kamu mau menemani Mama membuat kue?” Ajakan Mama yang segera disambut anggukan Lila.

                  Mama mengeluarkan alat-alat membuat kue dan menyiapkan bahan-bahan. Acara membuat kue itu memecah kecanggungan. Lila mulai merasa nyaman. Ternyata permintaan Bunda untuk berpura-pura menjadi anak Mama tak seaneh yang ada dipikirannya. Mama, wanita yang menyenangkan. Kue yang dibuatnya terasa sangat enak. Berbeda sekali dengan kue buatan Bunda yang memang tak jago memasak.

                  “Mama harus cepat sembuh,” bisik Lila sambil memeluk Mama. Ia benar-benar tulus mengatakannya. Jika Naila masih hidup, pasti ia akan melakukan hal yang sama. Ah, seperti apa gadis itu sebenarnya. Seberapa mirip wajah mereka hingga Bunda memintanya berperan sebagai Naila.

                  “Kamu senang hari ini?” Pertanyaan yang tak diduga Lila.

                  “Tentu saja.”

Saat itu Lila sadar. Ada pendar bahagia di mata Mama. Setelah dari pagi yang dilihatnya hanya kesedihan, kecemasan, dan ketakutan.

“Kalau Mama sudah sehat, kita akan membuat kue lebih banyak lagi.” Kini bahkan Lila terkejut dengan ucapannya sendiri.

 

***

 

                  Sudah lima hari Lila tinggal bersama Mama. Papa beberapa kali bergabung dengan mereka saat jam minum teh di sore hari. Waktu terasa berjalan cepat. Beberapa kali Lila cemas jika minggu itu berakhir dan ia harus memberitahu Mama bahwa ia bukanlah Naila. Kenyataan bahwa anak gadisnya sudah meninggal karena kecelakaan pasti akan membuat Mama menjadi sedih lagi.

                  “Nai, bisa ambilkan sweater di kamar Mama. Ambil saja di lemari.”

                  Lila dengan patuh beranjak. Ia tak pernah masuk ke kamar Mama sebelumnya. Kamar Mama sama besarnya dengan kamar Bunda. Dengan sebuah tempat tidur king size dan lemari besar. Naila membuka pintu lemari. Diambilnya sebuah sweater berwarna biru langit yang biasa digunakan Mama. Ia sudah hampir keluar kamar ketika matanya menangkap sebuah album foto di meja rias Mama.

                  Mungkin ada foto Naila, batinnya. Selama ini, Lila tak pernah menemukan foto Naila. Tak ada satupun foto baik di ruang tamu atau di kamar yang ditempatinya. Padahal di rumahnya, banyak sekali foto-fotonya yang menghiasi dinding. Entah foto Ayah dan Bunda, foto keluarga, atau fotonya sendiri dan adiknya. Karena penasaran diraihnya album foto itu. Dibukanya halaman per halaman. Seorang anak bayi mungil menggunakan topi rajut biru langit terlihat sangat lucu. Lila merasa megenali foto itu. Tapi ia tak yakin di mana. Dibukanya lagi lembar berikutnya. Kini ia yakin dimana ia melihatnya. Juga lembar-lembar foto selanjutnya.

                  “Nai, kok lama?” Mama berhenti di pintu ketika melihat apa yang sedang dilihat Lila.

                  Lila bergeming. Tak tahu apa yang harus dilakukan. Tapi satu yang pasti, kini ia tak harus pusing menjelaskan ke Mama kalau Naila sudah meninggal.

                  “Aku pulang.” Putus Lila sebelum air matanya tumpah.

 

***

 

                  Sudah seminggu sejak Lila mengetahui fakta bahwa Bundanya bukanlah wanita yag melahirkannya. Sudah seminggu pula ia selalu menghindar saat Ayah atau Bundanya mencoba menjelaskan. Lila memilih mengunci diri di kamar. Ia tak tahu harus melakukan apa? Bagaimana ia harus bersikap pada Bunda? Juga pada Ganis, adiknya yang ia yakini adik tirinya sebenarnya. Juga pada Mama. Wanita yang melahirkannya dan memilih meninggalkannya untuk menikah dengan laki-laki lain saat usianya dua tahun. Ia juga merasa bersalah karena tanpa sadar ia membanding-bandingkan Bunda dengan Mama.

                  Pantas saja dulu saat ia melihat akta kelahirannya, ada yang berbeda dengan nama ibu kandung. Bunda bernama Handayani, sedangkan di akta tertulis Handayani A, nama Mama. Miripnya nama mereka tak membuatnya curiga.   

Tapi, kenapa mereka berbohong padanya? Harusnya Ayah sudah memberitahunya sejak dulu. Walaupun jika harus jujur, ia juga tak tahu apa yang harus dilakukan saat tahu Bunda bukan ibu kandungnya.

Sebuah ketukan pelan terdengar.

                  “Lila, Bunda masuk ya.”

                  Lila tak menjawab. Dia membenamkan wajahnya diantara kedua kakinya yang ditekuk.

                  “Mama sudah meninggal, Li.”

                  Lila mengangkat wajahnya dan menatap Bunda.

                  “Baru saja Bunda dikasih tahu Ayah.” Jawaban yang membuat Lila tahu bahwa apa yang didengarnya tak salah. Ia menangis.

                  Bunda memeluk Lila erat. Ia sangat menyayangi gadis itu seperti anaknya sendiri. Sebenarnya ia juga tak ingin mengirim Lila ke rumah Mamanya. Tapi wanita itu memohon dengan sangat. Bahwa umurnya tinggal sebentar lagi. Kanker kelenjar getah bening sudah menggerogoti tubuhnya sejak lama. Pada akhir hidupnya, ia sangat ingin melihat satu-satunya anak yang dilahirkannya ke dunia. Lila.

                  “Maaf, Bunda sudah bohong.”

                  Lila memeluk Bundanya erat. Ia sangat menyanyangi Bundanya melebihi apapun. Tapi, kenapa dadanya juga sesesak ini.

 

***

 

 

*Cerita fiksi ini merupakan karya orisinal penulis kontributor Gogirl!, penayangan sudah mendapatkan persetujuan dari penulis. Dilarang mengutip dan menyadur tulisan dari website ini. Bagi yang ingin mengirimkan karya tulis cerita untuk WEB STORY GOGIRL!, silahkan kirimkan ke esnoe.metha@gogirl.id, dengan format Word A4, font Calibri 11, spasi 1, minimal 900 kata, beserta data diri. Cerita harus orisinil hasil karya penulis, dan tidak menyinggung SARA. Cerita yang akan ditayangkan akan dihubungi oleh redaksi dan mendapatkan honorium. Cerita yang lewat dari 4 bulan tidak ditayangkan atau tidak dihubungi oleh pihak redaksi, maka berhak untuk mengirimkan ke media lain atau menggunakannya untuk kepentingan lain.* 

 

 

 

Written by Rini Nurul Hidayah
Share to:

Comments

0 Comments
Sort By   
Silahkan login untuk menulis komentar