GOGIRL! WEEKEND WEB STORY: MENDUNG DI HATI KARA

April 15, 2018

MENDUNG-DI-HATI-KARA

sumber foto: shutterstock

 

Kara menengadah menatap langit yang berselimut awan kelabu pekat, sekelabu perasaannya. Rambut ekor kudanya berkibar seperti bendera tertiup angin.  Gerimis rapat masih setia menyirami bumi seolah langit tengah mewakili tangisnya yang tersimpan rapat.

 

 

Atau malah mengejek kecengengannya? Entahlah.

Cewek manis berkulit sawo matang itu menghela napas berat. Hari sudah beranjak sore, tapi dia masih kerasan duduk di bangku halte di depan sekolahnya, enggan untuk pulang. Dia malas kembali ke rumah untuk memulai aktivitas hariannya yang agak berbeda dengan sebagian besar temannya. Dia merasa lelah. Bosan dengan rutinitas itu. Dia ingin melakukan hal normal seperti remaja lain.

“Hai!” Sebuah suara sok akrab terdengar dari samping kiri Kara. “Kamu yang jualan cilok kemarin, kan?”

Kara memalingkan wajah menatap cowok yang tersenyum lebar di sebelahnya. Kara ingat cowok itu. Anak baru di sekolahnya yang tinggal di kompleks perumahan mewah di sebelah kampung tempatnya tinggal.

Mereka tidak sekelas, tetapi Kara jelas tahu keberadaannya. Bukan rahasia lagi jika kemunculan siswa baru selalu menarik perhatian seluruh warga sekolah dan akan menjadi trending topic selama beberapa minggu, terutama yang memiliki wajah tampan seperti cowok yang menyapanya itu.

Kemarin sore, cowok bermata sipit itu memang membeli banyak sekali cilok dagangannya. “Iya, itu aku,” sergahnya kasar. “Silakan kalau mau mengejek. Aku udah biasa.”

Senyum di wajah cowok bermuka oriental itu meredup. “Siapa juga yang mau mengejekmu. Aku cuma mau bilang, cilokmu enak. Apalagi es sinomnya, seger banget! Manisnya pas. Nanti datang lagi, ya! Aku mau beli banyak kayak kemarin. Semua keluargaku suka,” katanya panjang, lalu melanjutkan dengan nada menyindir, “Sensitif amat sih. Lagi dapet, ya?”

Kara mendelik, dan cowok itu langsung mengacungkan dua jarinya tanda damai. “Bercanda…” ujarnya sambil kembali melempar senyum selebar pipi. 

Kara hanya balas mendengus dan kembali memalingkan muka menatap jalanan yang masih ramai. Masih enggan pulang meski banyak angkutan umum yang menawarkan tempat kosong.

“Namaku Arga.” Sekonyong-konyong cowok itu mengulurkan tangannya di depan Kara. “Kamu siapa?”

Meski enggan, Kara membalas juga uluran tangan cowok itu. Refleks saja, sih sebenarnya. “Kara,” ucapnya singkat sambil kembali menarik tangannya setelah hanya satu detik bersentuhan dengan tangan hangat Arga.

“Kara,” gumam Arga, lalu tertawa kecil. “Kayak nama santan.”

Kara kembali melemparkan tatapan membunuh. Meski sudah terbiasa mendengarnya, tetap saja dia merasa tidak senang, apalagi dalam suasana hati yang buruk seperti saat ini.

“Sori, sori. Ampun. Maaf. Bercanda.” Arga mengangkat kedua tangannya tanda menyerah. Mungkin kalau punya kain putih, dia akan mengibarkannya juga. Tatapan cewek itu lumayan seram.

Kara melengos dan kembali larut dalam pikirannya yang suntuk dikarenakan hari yang menyebalkan. Well, mungkin hidupnya memang menyebalkan.

 “Kenapa, sih mukanya ditekuk terus gitu?” Seakan berani mati, Arga lagi-lagi mengganggu kesibukan Kara meratapi nasibnya. “Langit jadi ikutan mendung tuh, gara-gara mukamu mendung.”

“Nggak ada hubungannya dengaku,” tukas Kara tanpa menoleh. “Emang udah musimnya.”

“Eh, ada, beneran.” Arga berkeras. “Coba deh kamu senyum, terus mukanya dibikin ceria, pasti mendungnya hilang.”

Kara sama sekali tak tertarik mengikuti saran Arga. Mendung akan hilang kalau dia tersenyum? Dia mendengus. Omong kosong! Sama omong kosongnya dengan ungkapan, ‘Tersenyumlah, maka dunia akan tersenyum padamu.’ Sejak dulu dia tersenyum, tetapi dunia tak tersenyum padanya.

“Lagi ada masalah, ya?” Mendapati reaksi Kara yang sama sekali tak terpancing ucapannya, Arga bertanya. Tapi cewek itu bungkam. “Ada masalah apa, sih? Kamu bisa cerita sama aku kalau mau. Aku pendengar yang baik, lho.”

“Kenapa aku harus cerita sama kamu?” Akhirnya Kara membuka mulut, meski bukan jawaban yang diharapkan Arga.

“Nggak harus, sih,” ujar Arga. “Aku kan cuma menawarkan. Kupikir semua orang butuh teman untuk berbagi cerita.”

“Dan kenapa menurutmu aku mau menceritakan masalahku pada cowok yang baru kukenal beberapa menit?” Kali ini Kara sedikit melirik Arga.

“Entahlah,” Arga mengedikkan bahu. “Sebenarnya aku nggak memikirkannya, sih. Aku hanya ingin membantumu.”

“Terima kasih,” kata Kara. “Tapi aku nggak butuh.” Dan dia kembali sibuk menikmati kekalutannya. Beberapa masa, kesunyian melingkupi mereka berdua. Hanya titik gerimis yang turun di atap halte dan deru kendaraan yang terdengar.

Tapi hanya sebentar. Karena tak lama, Arga yang tidak suka kesunyian kembali berkicau, “Ayolah… cheer up! Emang masalah apa, sih yang melandamu? Segala kesulitan hidup akan lebih mudah diatasi kalau kamu tersenyum.”

“Tahu apa kamu tentang kesulitan hidup?” Kara menatap tajam. “Orang kaya macam kamu nggak akan mengerti tentang kesulitan hidup. Kamu bisa mendapat apa pun yang kamu inginkan tanpa perlu bekerja keras.”

Sejenak Arga diam, membiarkan Kara meredakan emosinya yang akhirnya meletus. Sekarang dia mengerti apa yang menjadi sumber kagalauan Kara. Setelah memastikan Kara tak lagi bersuara, dengan tenang dia bertanya, “Kamu masih punya orangtua?”

“Ya,” sahut Kara cepat.

“Saudara?”

“Punya,” jawab Kara sebal. “Aku punya dua adik yang masih kecil-kecil,” lanjutnya. “Aku tahu kamu akan bilang, seharusnya aku bersyukur, karena meskipun miskin, setidaknya aku masih punya keluarga lengkap. Aku sudah sering mendengar itu. Dan iya, tentu saja aku bersyukur. Tapi apa bedanya? Kamu juga masih punya keluarga lengkap. Dan kamu lebih beruntung terlahir di keluarga kaya, sehingga kamu nggak perlu memikirkan cari uang untuk memenuhi kebutuhanmu. Setelah lulus SMA nanti, kamu bisa kuliah di mana pun tanpa mempermasalahkan biaya.”

“Kedua orangtuaku sudah meninggal,” kata Arga kalem. “Begitu pun kedua kakak kembarku. Kakek nenekku juga sudah lama meninggal. Om dan tante juga nggak punya. Aku sebatang kara.” Tak tampak sedikit pun kesedihan di wajah tampannya. Kesedihan itu sudah dikuburnya rapat-rapat di palung terdalam perasaannya.

Kara tertegun. “Kamu nggak bercanda, kan?”

Arga tersenyum kecil. “Kamu pikir aku bisa bercanda tentang hal penting semacam itu?”

“Tapi… kemarin…”

“Yang aku tinggali sekarang itu rumah teman baik mendiang orangtuaku,” Arga menjawab kebingungan Kara. “Merekalah yang mau berbaik hati menampung dan merawatku. Ketiga anak mereka pun menerimaku dengan sangat baik dan memperlakukanku seperti saudara kandung sendiri. Merekalah keluargaku saat ini.”

“Maaf,” ucap Kara tulus. “Bagaimana mereka…”

“Kecelakaan pesawat,” jawab Arga. “Sekitar enam bulan yang lalu. Cukup ramai diberitakan waktu itu. Kamu pasti mendengarnya.”

Kara mengangguk pelan. Siapa yang tidak mendengar kecelakaan pesawat menggemparkan yang menewaskan seluruh penumpangnya itu.

“Saat itu orangtuaku terbang ke Singapura untuk menghadiri wisuda kakak kembarku dan mereka dalam perjalanan pulang ke Indonesia.” Arga bercerita tanpa diminta. “Seharusnya aku ikut. Tapi waktu itu aku sakit, jadi terpaksa tinggal di rumah. Orang-orang mengatakan aku beruntung, tapi saat itu, aku nggak merasa demikian. Lebih baik aku ikut mereka daripada sendirian di dunia ini.”

Refleks, Kara mengusap lengan atas Arga untuk menenangkan.

Arga tersenyum menerima perlakuan Kara, kemudian berujar, “Itu dulu. Sekarang aku setuju dengan pendapat orang-orang bahwa aku beruntung.”

“Setidaknya kamu dapat asuransi, kan?” tanya Kara. Menurutnya itu penting karena paling tidak Arga bisa melanjutkan hidupnya tanpa takut kekurangan.

Arga mengangguk. “Banyak,” akunya. “Tapi bukankah kamu pernah mendengar, uang sebanyak apa pun takkan bisa menggantikan kepedihan kehilangan orang yang kita sayangi. Kalau boleh memilih, aku ingin kedua orangtua dan kakakku hidup daripada memiliki uang miliaran tapi sebatang kara. Tapi sayangnya aku nggak bisa memilih takdir. Jadi, satu-satunya hal yang bisa kulakukan hanyalah melanjutkan hidup karena aku tahu itulah yang diinginkan keluargaku. Kamu juga akan memilih keluarga, kan, daripada uang. Atau kamu lebih suka uang?”

 “Tentu saja keluarga,” sahut Kara cepat. “Harta yang paling berharga kan keluarga.”

“Nah, itu tahu. Makanya jangan sedih,” kata Arga. “Aku aja yang sebatang kara masih bisa gembira. Masa kamu yang kaya raya malah murung.”

“Iya deh, iya.” Kara mengalah.

“Memangnya apa sih yang membuatmu murung gitu?”

Bad day aja,” sahut Kara. “Juga capek.”

Kening Arga berkerut. “Capek kenapa?”

“Capek dorong gerobak cilok setiap hari mulai dari sore sampai malam dan harus begadang buat belajar atau ngerjain tugas.” Tanpa sadar Kara mengungkapkan isi hatinya.

 “Hm… iya sih, pasti capek,” Arga setuju. “Tapi kamu nggak malu, kan?”

Kara tersenyum tipis. “Perasaan malu sudah lama kukubur dalam-dalam.”

“Bagus,” sahut Arga. “Lalu yang bikin bad day?”

“Cowokku barusan mutusin aku. Dia malu terus-terusan diejek teman-temannya karena punya pacar tukang cilok.”

“Cowok bodoh,” celetuk Kevin. “Nggak usah dipikirin. Dia yang rugi.”

Kara tersenyum kecil. Kali pertama untuk hari ini. “Terima kasih. Tapi sebenarnya bukan itu yang paling kupikirkan.”

Arga kembali mengerutkan kening. “Lalu?”

“Seperti anak-anak normal umumnya, aku juga ingin kuliah setelah lulus nanti,” Kara mulai membuka hatinya. “Tapi semenjak ayahku sakit keras, aku harus menggantikannya jualan cilok. Dan semua uang yang kami tabung bertahun-tahun untuk biaya kuliahku habis untuk pengobatan.” Arga benar, perasaan Kara terasa lebih ringan setelah menuangkan bebannya.

 “Jangan sedih,” Arga menepuk punggung Kara pelan. “Kamu masih bisa menabung lagi nanti, setelah ayahmu sembuh. Kamu kan nggak harus langsung kuliah setelah lulus.”

Kara berpikir sejenak. Benar juga. Dia kan nggak harus langsung kuliah. Kenapa begitu galau seolah tak ada kesempatan lagi? Dia kan bisa menabung dan kuliah beberapa tahun lagi. Toh tak ada kata terlambat untuk belajar. Kenapa baru terpikir sekarang?

 “Aku pikir kamu hebat,” kata Arga kemudian. “Sejak pertama lihat kamu lewat di depan rumahku, aku langsung kagum sama kamu. Nggak banyak anak sekolah yang mau bantu orangtua jualan cilok.”

“Yang kemarin itu?”

Arga menggeleng. “Aku melihatmu sejak hari pertama datang ke kota ini. Dan sejak itu, aku jadi penggemarmu.”

Kara tertawa kecil. Penggemar? Kayak dia selebritas saja. “Tapi aku bukan satu-satunya, kok. Banyak anak lain di luar sana yang punya profesi ganda sepertiku.”

“Tetap saja lebih banyak yang cuma bisa ngabisin duit orangtua buat bergaya dan bersenang-senang.”

Kara kembali mengulum senyum tipis. Perasaannya perlahan membaik.

“Lihat!” Serta-merta Arga menengadah. “Gerimis udah reda. Mendung juga udah mulai pergi.” Lalu kembali menatap Kara dengan senyum kemenangan. “Aku benar, kan? Mendung akan menghilang kalau kamu tersenyum.”

Kara ikut menengadah menatap langit. Hampir tak percaya dengan penglihatannya. Matahari yang sedari tadi tersembunyi kini mulai menampakkan senyumnya. Seperti sihir saja. Ah, pasti cuma kebetulan.

“Udah sore, nih. Pulang, yuk!” ajak Kevin seraya berdiri. “Kamu kan mesti jualan cilok.”

Kara ikut bangkit. Keengganan untuk pulang telah lenyap berganti keinginan untuk segera sampai di rumah. Saat ini ibunya pasti sudah selesai menyiapkan gerobak cilok dan menunggunya untuk menjajakannya.

Kara melambaikan tangannya pada angkutan umum berwarna kuning yang melintas dan langsung naik mobil yang separuh kosong itu. Arga mengekor dan duduk di sebelahnya. Seiring dengan menghilangnya awan kelabu yang menghalangi sinar matahari, mendung di hati Kara pun perlahan lenyap. Apa pun yang terjadi esok, yang penting dia akan berjuang untuk hari ini.

 

 

***

 

 

*Cerita fiksi ini merupakan karya orisinal penulis kontributor Gogirl!, penayangan sudah mendapatkan persetujuan dari penulis. Dilarang mengutip dan menyadur tulisan dari website ini. Bagi yang ingin mengirimkan karya tulis cerita untuk WEB STORY GOGIRL!, silahkan kirimkan ke esnoe.metha@gogirl.id, dengan format Word A4, font Calibri 11, spasi 1, minimal 900 kata, beserta data diri. Cerita harus orisinil hasil karya penulis, dan tidak menyinggung SARA. Cerita yang akan ditayangkan akan dihubungi oleh redaksi dan mendapatkan honorium. Cerita yang lewat dari 4 bulan tidak ditayangkan atau tidak dihubungi oleh pihak redaksi, maka berhak untuk mengirimkan ke media lain atau menggunakannya untuk kepentingan lain.* 

 

 

Written by Cepi R. Dini
Share to:

Comments

0 Comments
Sort By   
Silahkan login untuk menulis komentar