GOGIRL! WEEKEND WEB STORY: LIFE BEHIND THE SCENES

October 15, 2017

GOGIRL!-WEEKEND-WEB-STORY-LIFE-BEHIND-THE-SCENES

 

Sudah beberapa hari ini Selly rajin menge-stalk seorang cewek yang berprofesi sebagai flight attendant yang tanpa sengaja muncul di kolom explore di instagramnya. Nama pramugari berwajah cantik dengan postur tubuh yang menarik itu adalah Clara Angeline. Postingannya dipenuhi dengan foto-foto penggalan kehidupannya yang mewah, dan Selly memulai kegiatan stalking-nya itu dari postingan Clara yang terlama. Seakan-akan masuk ke dimensi lain, Selly perlahan-lahan meniti foto demi foto milik Clara dan menciptakan alur cerita sendiri dalam kepalanya.

 

 

Clara lulus dari sebuah sekolah pramugari yang ternama dan sekarang bekerja di salah satu perusahaan penerbangan internasional yang selalu memasang harga mencekik. Clara mem-publish foto dengan rekan-rekan kerjanya sesama pramugari yang semuanya berperawakan bak model Victoria Secret di atas kabin pesawat yang tampak sepi. Lingkar pertemanannya tampak bagus, dan Selly menelan ludah dengan iri. Selly sendiri hanyalah seorang anak kuliahan semester kedua yang biasa-biasa saja dengan teman-teman yang biasa-biasa pula. Mana bisa mereka ber-pose secantik itu dan memenuhi feeds instagram sebagus Clara? Dari kualitas fotonya saja, Selly yakin Clara mengambil foto-foto tersebut dengan kamera berkualitas tinggi.

                Foto-foto Clara yang lain pun tidak kalah menggiurkan. Selly meneliti bagaimana pramugari itu terus berpindah Negara dalam jangka waktu yang cukup dekat, membuktikan bahwa Clara hampir tidak pernah tinggal diam di Indonesia untuk jangka waktu yang lama. Clara mem-posting fotonya bersama breakfast tray dengan latar overlays tempat tidur queen size dengan tag location salah satu brand hotel yang terkenal di Bangkok. Beberapa foto liburannya di Negara Gajah itu pun di upload sebelum ia kembali berpindah Negara. Kali ini ke Korea, dan sepertinya ia mengunjunginya di akhir tahun karena fotonya dipenuhi dengan nuansa natal. Selly memandangi foto Clara yang ber-pose cantik dibawah pohon natal dengan tag location Myeongdong. Gadis itu mengenakan mantel yang cantik, warnanya merah maroon dan dengan potongan yang meyakinkan Selly bahwa itu adalah mantel bermerek yang pastinya tidak murah. Ibu jari Selly menggeser lagi layar sentuh handphone-nya dan melihat foto-foto Clara yang lain. Fine dining yang mewah di Hongkong, kamera keluaran baru mahal yang diambil dengan latar belakang gedung Tokyo Sky Tree, serta beberapa foto di negara-negara lain sebelum akhirnya berakhir dengan liburan yang tampak menyenangkan di Bali.

                “Enak banget hidupnya,” keluh Selly begitu ia tiba di posting-an terakhir Clara. Bersamaan dengan itu, Jenny, temannya keluar dari kamar mandi dengan handuk membungkus rambut panjangnya. Jenny memang mampir sebentar untuk mandi karena ia baru saja selesai berlatih menari dengan teman-teman satu ektrakurikulernya sementara ia dan Selly sudah berjanji untuk keluar menonton film di bioskop. Selly yang melihat temannya sudah keluar, segera menoleh dengan wajah sedikit merengut. “Enak banget ya kerja jadi pramugari, Jen. Bisa kemana-mana, terbang-terbang ke sana-sini, ganti-ganti Negara terus, hidup mewah.”

                Jenny menoleh pada Selly sambil mengeringkan rambutnya. Keningnya ikut berkerut. “Ih, yang ada capek, tau. Jetlag melulu. Tapi emang enak, sih. Bisa keliling dunia gratis.”

                Selly menghela nafas panjang sambil memandangi lagi profile instagram Carla. “Iri banget deh sama orang ini. Kayaknya enak banget hidupnya.”

                Jenny yang merasa penasaran pun menghampiri Selly dan menunduk untuk melihat siapa gerangan pramugari yang sedang dibicarakannya. Keningnya kembali berkerut saat ia melihat nama Clara Angeline di salah satu foto yang sedang diamati Selly, menangkap ekspresi sumringah Clara yang tetap cantik berpose di salah satu kafe hits Bali dengan semangkuk smoothie bowl di kedua tangannya dan sekuntum bunga khas Bali menghiasi belakang telinganya. “Lho, ini kan temen sekolahnya kakakku. Kak Clara.”

                Selly langsung menaikkan kedua alisnya tinggi. “Oh? Kamu kenal sama dia ini? Clara Angeline?” tanyanya dengan terkejut.

                “Iya, ini teman satu sekolah kakakku pas SMA. Troublemaker banget, lho. Sering jadi langganan keluar masuk ruang BK sama pernah berantem sama guru juga.” Jawab Jenny seraya menganggukan kepalanya.

                “Beneran?” Selly tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya saat mendengar latar belakang SMA cewek cantik yang sedang dikaguminya ini.

                “Beneran. Sekarang jadi flight attendant kan, ya? Baguslah, sekarang dia bisa nyukupin kebutuhan hedonismenya deh.” Ucap Jenny lagi. Saat menangkap pandangan tidak mengerti Selly, Jenny menggedikan bahunya. “Dari jaman SMA, kak Clara itu udah terkenal banget. Bener-bener tipe panjat sosial yang ngutamain kepopuleran. Harus keliatan ­up to date, tapi sayangnya keluarga dia bukan keluarga berlebih jadi gak bisa penuhin keinginan dia. Malah dulu rumornya dia pernah nyuri i-pod temannya buat beli handphone keluaran baru. Akhirnya sama mamanya dipindah sekolah dan untungnya kenalan mamanya itu guru di sekolah kakakku. Jadi dia pindah ke sana, deh.”

                “Masa, sih??” Selly langsung duduk tegap di kursinya. Matanya membola, tampak sangat terkejut namun juga tertarik dengan kata-kata Jenny. “Dia kayak gitu? Astaga, foto-fotonya kayak bener-bener orang tajir gini.”

                “Itu mah yang kelihatan doang,” Jenny menjawab sambil menggelengkan kepalanya. “Temennya kakakku ada satu yang masih kontak-kontakan sama kak Clara sampe sekarang. Denger-denger sih dia sekarang tinggal di luar negeri sejak kerja jadi pramugari, tapi gak ikutan ngirim-ngirim uang ke mamanya di Jakarta. Jadi uang gajinya itu seratus persen dipakai buat dia sendiri, padahal keluarganya broken home dan dia masih punya dua adik yang masih SMA. Untung mamanya punya penghasilan tetap, cuma kayaknya mamanya juga gak berharap banyak sama dia.”

                Selly masih tidak dapat menyembunyikan keterkejutannya. Keningnya masih berkerut dan perlahan-lahan ia mengalihkan perhatiannya kembali pada feeds postingan Clara. Parfum Victoria Secret yang mahal, kamera keluaran baru yang bagus, kafe-kafe yang sedang nge-trend, foto-foto perawatan di salon… mendadak pemandangan itu tidak lagi menggugah seleranya. “Jadi dia gak pernah kontak-kontakan sama mamanya?”

                “Masih kontak-kontakan, tapi dia gak pernah kirim aja.” Jawab Jenny lagi. “Bulan lalu malah katanya dia sempet mau pinjem uang sama temannya kakakku itu. Saldonya di bank bener-bener habis katanya.”

                “Lho, kok bisa? Dia kan flight attendant-,” ucapan Selly terpotong sesaat, kemudian ia menganggukan kepalanya mengerti. “Habis buat beli barang-barang di instagramnya ini?”

                “Iya, dia gak bisa pegang uang. Sekalinya pegang, bawannya ngehabisin mulu. Dia gak kuat nabung, selalu dipake buat beli barang-barang buat materi show off,” jelas Jenny. “Makanya jangan heran kok instagram dia sebelas dua belas saingan sama artis Indonesia. Mamanya udah angkat tangan sama dia. Dia terlalu peduli sama status sosialnya.”

                “Serem ya,” gumam Selly tanpa mengalihkan perhatiannya dari feeds foto Clara Angeline. “Padahal di sini kelihatan borju banget, hidup tanpa beban. Keren abis.”

                Jenny terkekeh, mendudukan dirinya di atas kasur Selly. “Namanya juga social media, Sel. Tempatnya orang-orang sharing, pamer. Sekarang sih gunanya udah kayak gitu. Lagian yang kamu lihat kan cuma yang kelihatan aja. Spotlight-nya. Behind the scenes nya kan enggak. Dimana-mana orang itu kalau mau ngelihatin hidup mereka, itu pasti nunjukin yang bagus-bagusnya. Gak mungkin kan mereka tunjukin jeleknya. Karena pada dasarnya mereka pengen dikagumin. Tapi yang ngelihat, suka ketipu. Dikiranya hidup orang itu bagus-bagus semua. Ya jelas bagus-bagus aja, yang di-upload juga yang seneng-senengnya doang, kan.”

                Selly cukup tertohok mendengar kata-kata Jenny. Ia tidak berselera lagi mengagumi foto-foto milik Clara. Ia menyesal sempat meratapi kehidupannya sendiri tadi yang menurutnya memang biasa-biasa saja. Untungnya Jenny mampu menyadarkannya lagi dengan pesona gemerlap social media yang memang membutakan.  

                “…tapi si Santi, kalau update status di line isinya galau-galau mulu. Kita lihat jelek-jeleknya doang,” kata Selly, mendadak terkekeh mengingat status-status tidak jelas teman sekampusnya yang didominasi oleh patah hati dan sindiran pada orang-orang.

                “Itu namanya BAPER, yang itu malah bikin polusi status.” Jenny langsung tertawa kecil dan melangkah ke depan meja rias Selly untuk menyisir rambutnya. “Social Media itu bagus, tapi juga jelek. Tergantung kita mau nyikapinnya gimana, jangan sampe kita ketipu sama luarnya deh. Jangan juga kedorong keharusan buat bikin satu dunia kagum, bikin capek diri sendiri.”

                Selly langsung menutup aplikasi instagram-nya saat itu. Ia baru saja menerima pelajaran yang sudah sering dia dengarkan tapi kerap kali pula ia lupakan. Tentang hidup dan status sosial yang akhir-akhir ini menjadi pusat perhatian tentang pengaruhnya pada psikis orang-orang terutama anak-anak muda. Bagaimana terobsesnya orang memanipulasi hidupnya dalam bentuk piksel dan kata yang di rangkai sedemikian rupa hingga tampak sempurna, saat pada akhirnya semua manusia sama saja. Masing-masing dari kita menyimpan rahasia, masing-masing dari kita memiliki Behind The Scenes yang jauh dari sempurna.

 

***

 

*Cerita fiksi ini merupakan karya orisinal penulis kontributor Gogirl!, penayangan sudah mendapatkan persetujuan dari penulis. Dilarang mengutip dan menyadur tulisan dari website ini. Bagi yang ingin mengirimkan karya tulis cerita untuk WEB STORY GOGIRL!, silahkan kirimkan ke metha@gogirlmagazine.com, dengan format Word A4, font Calibri 11, spasi 1, minimal 900 kata, beserta data diri. Cerita harus orisinil hasil karya penulis, dan tidak menyinggung SARA. Cerita yang akan ditayangkan akan dihubungi oleh penulis dan mendapatkan honorium. Cerita yang lewat dari 4 bulan tidak ditayangkan atau tidak dihubungi oleh pihak redaksi, maka berhak untuk mengirimkan ke media lain atau menggunakannya untuk kepentingan lain.*   

 

 

Written by Desvita Mercya Natalia Tan
Photo Source:
shutterstock
Share to:

Comments

0 Comments
Sort By   
Silahkan login untuk menulis komentar