GOGIRL! WEEKEND WEB STORY: LELAKI LAIN

April 14, 2018

LELAKI-LAIN

sumber foto: shutterstock

 

Kau lelaki terbawel yang pernah kukenal. Setiap hari bertanya ini dan itu. Menyuruhku memberitahu apa pun yang kulakukan. Melarang pergi ke sembarang tempat, tanpa sepengetahuanmu. Dan tidak memperbolehkan aku pergi dengan orang yang tidak kau kenal. Pernah suatu waktu, kau marah karena aku pergi dengan lelaki lain. Dengan wajah yang tak ramah, tatapan tajam dan suara tinggi, kau menghakimi. Mengancam akan menghajar lelaki itu jika ia berani mengajakku pergi lagi. Aku menangis, kaget atas sikapmu yang kasar itu. Padahal aku hanya main ke taman kota. Sebatas mengobrol dengannya, tidak kurang maupun lebih. Sialnya hujan mengurung kami di sana. Jadilah aku pulang saat matahari sudah tenggelam.

 

 

Sejak saat itu, aku lebih berhati-hati. Tidak. Aku tidak menjauhi lelaki itu, seperti yang kausuruh. Tanpa sepengetahuanmu aku bertukar pesan dengannya. Jika ada kesempatan, kami bertukar kata. Bahkan sesekali aku dan lelaki kurus itu jalan-jalan menikmati ramainya pusat kota atau mengunjungi tempat wisata. Tentu saja untuk yang satu ini, kau tidak akan tahu. Kukatakan padamu aku main bersama sahabatku, Maudy. Tidak ada alasan untuk melarangku pergi bersama Maudy, bukan?

Tiga bulan berlalu, aku menikmati semua itu. Diam-diam dekat dengan lelaki lain. Merasa nyaman dengannya, aku pun menerima tawaran lelaki kurus itu. Ya. Kami pacaran. Tentu saja aku tahu resikonya. Jika kau tahu, bukan hanya lelaki itu saja yang kauhajar, boleh jadi aku pun ikut dihajar. Tapi aku yakin, hal itu tidak akan terjadi. Sebagaimana aku yakin, sampai kapan pun, kau tidak akan tahu.

Setiap Minggu, aku mencari-cari alasan supaya bisa bertemu dengannya. Berbagai alasan kureka; mau kerja kelompok, beli buku baru, jajan, atau sekedar main ke rumah Maudy. Supaya lebih meyakinkan, aku bersekongkol dengan Maudy. Wanita berkacamata itu menjalankan perannya dengan baik. Upayaku berhasil. Memang benar aku pergi bersama Maudy, tapi ditemani pula oleh lelaki itu.

Kunci dari hubungan gelap ini ada di tangan Maudy. Tanpa bantuannya, semuanya akan berantakan. Ini pula yang digunakan Maudy setiap kali kami makan. Menuntut untuk ditraktir. Kalau tidak, si penggila Conan itu mengancam akan melaporkan tingkahku ini padamu. Dengan berat hati, aku mengabulkan permintaannya. Tapi aku tidak peduli. Yang penting aku bisa menikmati kebersamaan dengan lelaki kurus berhati tulus.

Seiring berjalannya waktu, kau memutuskan untuk pergi keluar kota. Jarak memisahkan kita begitu jauh. Hanya satu bulan sekali saja kau pulang. Kesempatan ini tidak aku sia-siakan. Sepulang sekolah, tidak jarang, aku berkeluyuran di pusat kota. Aku sengaja membawa baju ganti, agar tidak diusir oleh satpam. Berkali-kali aku tidak mengajak Maudy. Ya aku berdua saja dengan lelaki, yang akan dihajar jika kau tahu. Kami nonton di bioskop. Sungguh menyenangkan.

Lelaki itu selalu membuatku tersenyum.

“Sayang, Bapak kamu pencuri ya.”

“Kok kamu tahu?”

“Soalnya kamu telah mencuri hatiku.”

Demi mendengar kata-kata itu, pipiku memerah. Meskipun ketika aku pikir-pikir kembali, dia kurang ajar, menanggap Ayah pencuri. Ternyata cinta mengaburkan logika.

Tak mau kalah, aku membalasnya. “Sayang, Bapak kamu polisi ya.”

“Kok kamu tahu?”

“Pantesan bapakku gak bisa mencuri lagi.”

Sepersekian detik kemudian kami tertawa bahak. Padahal saat aku cerna lagi, tidak ada lucu-lucunya. Ternyata cinta adalah kelucuan paling nyata.

Tiga bulan kau berada di luar kota. Sebagaimana yang kau janjikan, tiap akhir bulan kau pulang. Ketika hari itu tiba, kita menghabiskan waktu bersama sepanjang hari. Aku sengaja bilang ke lelaki kurus itu supaya tidak menghubungi. Aku pun melarang Maudy datang ke rumah. Takutnya ia bertemu denganmu dan melaporkan apa saja yang kulakukan sebulan terakhir.

Bulan berikutnya, keadaan masih terkendali. Hubunganku dengan lelaki itu semakin erat. Bahkan ia terang-terangan menjemputku di rumah saat kami mau main. Aku tidak takut kalau kamu tahu. Tinggal rangkai saja alasan. Gampang. Kami tidak lagi main ke pusat kota. Tapi ke tempat wisata yang sepi.

Di bawah pohon pinus lelaki itu menggenggam tanganku. Kami berpose. Membiarkan mata kamera mengabadikan kebersamaan kami. Tidak berhenti di situ, lelaki itu mengeluarkan rayuan mautnya yang membuatku melayang. Aku merasa bahagia ketika bersamanya. Tempat demi tempat kami kunjungi. Di beberapa tempat lelaki itu berani memelukku. Awalnya aku membiarkan, lambat laun ia keterlaluan. Puncaknya aku menampar pipinya karena ia meminta bibir dan tubuhku. Hal itu membuat hubunganku dengannya mulai retak.

Aku termenung, selama kita bersama, kamu tidak pernah memperlakukanku seperti lelaki itu. Kau menjagaku. Sungguh kurang ajar lelaki kurus itu.

Malam berganti malam, tanpa kusadari ternyata aku merindukanmu. Sosok yang selalu memperhatikan setiap gerak-gerikku. Mulai dari bangun tidur hingga aku tidur lagi. Sial. Pekerjaanmu merenggut perhatian itu. Kau hanya sesekali bertanya kabarku di ujung telepon. Dan selalu berkata “baik-baik saja” ketika aku balik bertanya. Kau tidak pernah mengeluh. Padahal aku tahu kau lelah. Sebagaimana aku tahu, kau melakukan semua itu untukku. Bodohnya aku malah menyia-nyiakannya. Lebih memperhatikan lelaki lain daripada dirimu.

Hubunganku dengan lelaki kurus itu tidak mulus. Seringnya aku menolak permintaannya, mengunjungi tempat sepi, membuat ia bosan. Lambat laun ia pun berubah. Sulit untuk dihubungi. Susah untuk ditemui. Apakah ia marah gara-gara aku menolak mentah-mentah bibirnya? Entahlah. Mendekati enam bulan, hubungan kami semakin runyam. Boleh dibilang di ambang kehancuran. Maudy menjadi pelampiasanku.

“Apakah semua cowok itu sama?”

“Hmm.” Maudy mengernyitka dahi. Ia menghiraukan buku yang tergeletak di kasurnya.

“Apakah semua cowok itu bajingan?”

“Devita,” Maudy memperbaiki posisi duduknya, “udah lupain aja dia. Kalau gini terus mending putus aja.”

“Tapi…”

“Tapi apa?”

“Aku sayang sama dia.” Bersama dengan keluarnya kata itu, mataku berkaca-kaca. Entah apa pasalnya. “Dan dia juga…”

“Dia juga sayang sama kamu? Ayolah Vitaaa. Kalau dia emang sayang, enggak mungkin ngilang gitu aja. Nggak mungkin nyakitin. Apalagi alasannya gara-gara itu.”

Lengang beberapa saat.

“Cowok emang bajingan.”

“Itulah alasanya aku sampai saat ini masih jomblo.”

“Ah itu mah gara-gara kamu nggak laku, haha.”

Kami tertawa bahak. Maudy emang jagonya mengganti air mata dengan tawa.

“Tapi ada kok cowok yang enggak bajingan,” ucap Maudy saat tawanya reda. “Dan aku udah punya satu.”

Mataku membulat, kaget. Bukankah sampai detik ini Maudy masih jomblo. “Siapa?”

“Ayah.” Maudy tersenyum. “Dialah satu-satunya cowok yang enggak bajingan. Yang menyayangi apa adanya. Memberi segalanya. Dan mencintai selamanya.”

Aku terdiam. Apa yang dikatakan Maudy ada benarnya.

Tidak lama kemudian, aku putus dengan lelaki kurus itu. Tidak bisa ditampik, mataku basah. Entah apa alasannya aku menangisi lelaki bajingan itu. Lebih tepatnya untuk apa?

Beberapa hari, setelah putus, aku murung. Ditambah kau, tidak seperti biasanya, telat pulang. Kau bilang tanggung sebentar lagi pekerjaanmu beres. Dua hal itu cukup untuk membuatku bertambah cengeng. Air mata bagai tamu tak diundang, datang begitu saja.

 

***

 

Malam itu, tidak seperti biasanya, aku sangat merindukanmu. Merasa bersalah karena lebih memperhatikan lelaki lain. Merasa kehilanganmu. Padahal beberapa saat yang lalu, kau menelepon, memberitahu besok akan pulang. Kau pun bertanya, mau dibawakan apa. Halus aku menolak. Aku tidak ingin dibawakan apa-apa. Aku hanya ingin bertemu denganmu. Malam semakin larut. Bayanganmu tidak mau pergi dari benakku. Kerinduan itu semakin menjadi-jadi. Kupandangi fotomu hingga tertidur.

Sebelum matahari berani menunjukkan sinarnya, Ibu masuk ke kamar. Tanpa aba-aba ia memelukku erat. Sebelum kesadaranku sempurna, Ibu sudah terisak-isak. Aku bingung. Belum sempat kubertanya banyak, lirih Ibu berkata, kau kecelakaan di tempat kerja, dan meninggalkan kami untuk selamanya. Beberapa detik aku memantung. Tidak percaya terhadap apa yang kudengar. Sayang, sekuat apa pun aku berharap itu bohong, atau sebatas mimpi buruk, ternyata memang benar adanya, kau telah tiada. Air mata berjatuhan begitu saja. Aku menjerit hingga tidak sadarkan diri.

Detik ini aku sedang memeluk fotomu. Air mata terus saja menetes. Aku merasa sangat kehilangan. Kerinduan menyeruak begitu dalam. Tujuh belas tahun lamanya kita bersama. Selama itu pula kau menjagaku, menjaga permatamu. Kau memberikan apa pun yang kumau. Kau menjadikan aku wanita paling berharga.

Lirih kuberkata, “Ayah maafkan aku. Maafkan aku yang tidak menyadari besarnya cintamu. Maafkan aku yang menampik perhatianmu. Maaf. Maafkan anakmu ini, yang selalu melawanmu. Tidak mendengarkan nasihatmu. Ayah setelah kau tiada, apakah ada lelaki lain yang akan menyayangiku setulus Ayah. Apakah ada lelaki lain yang bisa menghadapiku sesabar Ayah. Apakah, apakah ada lelaki lain yang bisa menggantikan Ayah… Ayah aku mohon kembalilah. Aku mohon kembalilah…” suaraku hilang ditelan tangisan.

 

***

 

 

 *Cerita fiksi ini merupakan karya orisinal penulis kontributor Gogirl!, penayangan sudah mendapatkan persetujuan dari penulis. Dilarang mengutip dan menyadur tulisan dari website ini. Bagi yang ingin mengirimkan karya tulis cerita untuk WEB STORY GOGIRL!, silahkan kirimkan ke esnoe.metha@gogirl.id, dengan format Word A4, font Calibri 11, spasi 1, minimal 900 kata, beserta data diri. Cerita harus orisinil hasil karya penulis, dan tidak menyinggung SARA. Cerita yang akan ditayangkan akan dihubungi oleh redaksi dan mendapatkan honorium. Cerita yang lewat dari 4 bulan tidak ditayangkan atau tidak dihubungi oleh pihak redaksi, maka berhak untuk mengirimkan ke media lain atau menggunakannya untuk kepentingan lain.* 

 

 

Written by Nasrul M. Rizal
Share to:

Comments

0 Comments
Sort By   
Silahkan login untuk menulis komentar