GOGIRL! WEEKEND WEB STORY: JANJI KAK ROS

February 11, 2018

JANJI-KAK-ROS

sumber foto: shutterstock

 

Langkahku pelan menyusuri trotoar. Sengatan sinar matahari yang menerpa ubun-ubun selama perjalanan pulang membuat kepalaku pusing. Suasana hatiku makin buruk karena peristiwa yang baru terjadi. Gambaran itu berputar ulang. Sepeda motor terparkir di depan sekolah. Mata pengemudinya tajam mengawasi. Sesaat kemudian seorang siswi berlari mendekat, duduk di boncengan lalu sepeda motor itu melaju pergi. Kuhembuskan napas kesal. Tak kusangka saudara kembarku tega melakukannya.

 

 

         Pintu depan rumah kubuka dengan kunci yang selalu kubawa. Kak Ros dan Ine belum pulang. Setelah mandi aku ke dapur, menanak nasi untuk makan malam. Nasi hampir matang saat terdengar mesin mobil dimatikan. Langkah-langkah di teras kemudian pintu dibuka. Kak Ros menghampiriku. Disodorkannya dua kantong plastik yang dibawa.

         “Ine belum pulang?” tanyanya.

         “Belum,” jawabku singkat sambil memindahkan makanan yang dibeli Kak Ros ke piring.

         “Ke mana anak itu?”

         Aku tak menanggapi. Tak lama berselang pintu depan kembali terbuka. Kak Ros menegur Ine yang baru datang.

         “Kenapa terlambat?”

         “Tadi aku ke rumah teman, Kak. Ada urusan,” jawab yang ditanya sambil melepas sepatu.

         Kulirik dia. Ine tak menyadari. Dasar pembohong, batinku marah. Aku tahu pasti bukan itu yang terjadi.

         “Lain kali telpon kalau terlambat.”

         “Baik, Kak.”

         “Ya sudah. Mandi dulu baru makan malam.”

         Ine mengangguk sebelum pergi. Kak Ros membantuku menyiapkan makan malam.

         “Kakak mandi dulu. Gerah,” kata Kak Ros setelah semua siap. Selangkah kemudian ia berpaling.

         “Tolong panaskan makanan di kulkas, Na. Kakak bikin tadi pagi.”

         “Baik, Kak,” jawabku.

         Kubuka kulkas, meraih sepiring tempe goreng buatan Kak Ros lalu menghangatkannya di microwave.

        Kak Ros masuk ke kamar setelah makan malam. Begitu gadis itu hilang dari pandangan, kucekal lengan Ine lalu menyeretnya ke kamar yang kami tempati. Kembaranku menyentakkan lengannya. Dengan marah ditatapnya diriku yang menutup pintu dan menguncinya sekaligus.

         “Apa-apaan ini?”

         “Aku yang seharusnya tanya,” balasku tajam, “Selama ini kamu membohongi Kak Ros dan aku.”

          “Bohong apa?”

         “Jangan pura-pura,Ine,” kataku marah, “Kamu masih menemui laki-laki itu, kan? Aku lihat dia menjemputmu di sekolah tadi.”

         Paras Ine memucat. Ia terdiam.

       “Kamu sudah janji, Ine!”

         “Tolong jangan beritahu Kak Ros.”

        “Aku terpaksa bilang kalau kamu masih menemuinya,” ancamku.

         Ine menggeleng cepat. “Tidak. Itu yang terakhir. Sungguh.”

 

***

 

         Belum juga pintu depan terbuka sudah terdengar keributan itu. Suara-suara teredam. Aku bergegas masuk lalu menutup pintu di belakangku. Kak Ros dan Ine berdiri berhadapan. Suasana panas. Perdebatan mencapai puncaknya.

         “Aku bukan anak kecil lagi, Kak,” protes Ine.

         “Bersikaplah dewasa kalau begitu. Ada apa denganmu, Ine? Dia itu jauh lebih tua darimu.”

         “Apa salahnya?”

         “Cukup,” tukas Kak Ros tegas, “Kakak melarangmu bertemu dia lagi. Mengerti?”

         “Tidak mau!” jerit Ine, “Jangan mengatur hidupku, Kak. Kak Ros bukan ibuku!”

         Kak Ros bergeming menatap Ine yang lari masuk kamar. Sesaat kemudian ia berpaling, beradu mata denganku.

         “Ada apa?” tanyaku.

         “Ine masih menemui laki-laki itu. Kakak melihat mereka berdua tadi. Kamu tahu tentang ini, Na?”

         Aku gelagapan ditanya seperti itu. Perlahan aku mengangguk.

         “Aku melihatnya kemarin sore. Dia menjemput Ine ke sekolah.”

         “Kamu tidak bilang pada Kakak.”

         “Ine bilang itu yang terakhir.”

         “Dan kamu percaya?”

         Aku terdiam.

         “Maaf, Kak,” kataku lirih.        

         Kak Ros beranjak ke dapur tanpa menjawab. Aku mengikuti. Kulirik Kak Ros dengan takut-takut. Wajahnya tanpa ekspresi. Kami menyiapkan makan malam tanpa bicara. Saat aku dan Kak Ros duduk menghadapi hidangan yang tersaji di meja, Ine tak ikut bergabung. Pintu kamarnya tertutup rapat. Kak Ros melarang aku memanggilnya.

         “Biarkan saja,” kata Kak Ros datar sambil menyendok nasi ke piring. “Dia harus berhenti bersikap kekanak-kanakan.”

         Melihat diriku masuk kamar, Ine yang semula duduk bersandar ke kepala tempat tidur dengan bantal di pangkuan, buru-buru membaringkan tubuh. Matanya merah bekas menangis. Aku berkata membujuk.

         “Turuti kata-kata Kak Ros, Ine. Jangan keras kepala.”

         Ine diam saja. Ia berbalik, memunggungiku. Aku sedih. Dulu kami begitu dekat. Tak ada yang disembunyikan Ine dariku, begitu juga sebaliknya. Kini semua berubah. Sejak mengenal laki-laki itu, Ine tak bisa kujangkau. Seakan ada tembok pembatas tak kasat mata antara kami.

         Keadaan tidak membaik keesokan harinya. Meski kami bertiga duduk bersama pagi itu, suasana kaku dan muram. Tak ada yang berusaha memulai percakapan. Selesai sarapan, Ine dan aku pergi ke sekolah. Kak Ros menuju tempat kerjanya. Kami berpisah tanpa sepatah kata. Detik itu, kemarahanku bangkit pada sosok lelaki yang telah mengusik kedamaian di keluarga ini.

         Perlahan hubungan Kak Ros dan Ine kembali seperti semula. Kak Ros tak pernah lagi menyinggung soal lelaki itu, seperti Ine yang tak mau membahasnya. Keduanya menghindari topik yang memicu perdebatan. Laki-laki itu tak lagi datang menjemput Ine ke sekolah. Sebulan kemudian kudapati kembaranku itu duduk termenung di teras belakang.

         “Ada apa?”

         “Kak Ros benar,” jawabnya tanpa memandangku.

         “Tentang?”

         “Dia.”

         “Laki-laki itu?” tanyaku menegaskan.

         Ine mengangguk.

         Apa yang terjadi bisa kuduga tanpa perlu bertanya lebih lanjut. Kuulurkan tangan ke arahnya.

         “Ayo.”

         Ine berpaling, menatapku untuk pertama kalinya. Matanya bersinar heran.

         “Ke mana?”

         “Hidupmu nggak akan berakhir hanya karena putus dengan dia.”

         Hening sesaat sebelum seulas senyum muncul di bibir Ine.

         “Kamu benar.”

 

***

 

         Mesin mobil sudah dipanaskan. Semua siap. Kak Ros duduk di belakang kemudi, berdecak tak sabar. Dipandanginya aku yang berdiri bersandar ke mobil.

         “Lama sekali anak itu,” omelnya.

         “Biar kupanggil dia,” kataku.

         Aku melangkah kembali ke teras, berseru memanggil dekat pintu yang terbuka lebar.

         “Cepat, Ine. Kami menunggu dari tadi.”

         Yang dipanggil keluar dari kamar, menghampiriku. Kukunci pintu depan kemudian masuk ke mobil. Ine duduk di sebelah Kak Ros. Mobil melaju, membelah kepadatan lalu lintas di pagi hari menuju ke tempat pemakaman. Kak Ros membeli dua kantong plastik kecil bunga tabur sebelum masuk. Kami bertiga berjalan menyusuri deretan makam. Di samping dua makam yang terletak berdampingan, kami bersimpuh. Aku, Kak Ros dan Ine menaburkan bunga ke pusara sebelum berdoa.

         “Setahun lalu Kakak berjanji pada Papa dan Mama akan menjaga kalian,” kata Kak Ros usai berdoa.

         “Tidak mudah jadi orangtua, terutama menghadapimu, Ine. Terkadang kamu susah diatur.”

         Ine tersipu malu. “Maaf, Kak.”

         “Kakak sudah memaafkanmu bahkan sebelum kamu memintanya,” ucap Kak Ros seraya tersenyum sayang.

         Tangannya merangkul diriku dan Ine di kanan-kiri. “Ayo kita pulang.”

 

 

***

 

 

*Cerita fiksi ini merupakan karya orisinal penulis kontributor Gogirl!, penayangan sudah mendapatkan persetujuan dari penulis. Dilarang mengutip dan menyadur tulisan dari website ini. Bagi yang ingin mengirimkan karya tulis cerita untuk WEB STORY GOGIRL!, silahkan kirimkan ke esnoe.metha@gogirl.id, dengan format Word A4, font Calibri 11, spasi 1, minimal 900 kata, beserta data diri. Cerita harus orisinil hasil karya penulis, dan tidak menyinggung SARA. Cerita yang akan ditayangkan akan dihubungi oleh redaksi dan mendapatkan honorium. Cerita yang lewat dari 4 bulan tidak ditayangkan atau tidak dihubungi oleh pihak redaksi, maka berhak untuk mengirimkan ke media lain atau menggunakannya untuk kepentingan lain.*

 

 

Written by Daisy Rahmi
Share to:

Comments

0 Comments
Sort By   
Silahkan login untuk menulis komentar