GOGIRL! WEEKEND WEB STORY: AMORNESIA

May 13, 2018

AMORNESIA

sumber foto: shutterstock

 

 

Masih seperti kemarin. Rintik langit tampak sibuk menghias sore. Sementara jemari kembali menorehkan aksara pada lembar kertas virtual. Bertatap muka dengan layar laptop seraya menyanding sajian favorit. Mencoba memutar ulang kenangan yang bagimu—mungkin—adalah sesuatu yang sangat ingin dilupakan.

 

 

Andai kamu tahu ... bukan maksud gadis itu enggan membalas perasaanmu. Bukan pula berniat acuh terhadap semua perhatian. Hanya saja, benak sang gadis tak kunjung menemukan definisi akurat untuk dapat menggambarkan siapa dirinya. Begitu takut kamu terlalu menggebu, tetapi berakhir pergi memanggul sejuta kecewa.

 

***

 

Gadis yang hampir-hampir tak punya kawan itu sedang berdiri di salah satu lorong gedung sekolah. Dekat ruang perpustakaan. Tidak berniat menunggu atau bertemu siapa-siapa. Cuma betah mendiami lokasi yang biasanya sunyi seusai jam sekolah.

Sembari menyandarkan punggung pada dinding, sebelah telapak tangan menyangga buku yang tadi siang baru dipinjam. Itulah cara dia untuk menguapkan beban pikiran. Lewat bacaan, menerbangkan angan merupa para tokoh. Seakan ikut menjalani rasa kehidupan yang berbeda—lebih nikmat—dari yang dipunyainya saat itu.

“Kamu, Natya, kan?”

“Hah?”

Mata bertemu mata. Sekian detik kalian habiskan hanya untuk saling memandang.

“Maaf ... ini bener yang namanya Natya, bukan?”

“I-iya. Memangnya ada apa?”

Spontan, kamu mengulurkan lengan. “Kenalin, aku Alex. Alexander Agung Wikanta.” Namun, sang gadis membisu.

“Kenapa?”

“A-anu ....”

“Apa ada yang salah?”

“Emm, nggak, kok.”

“Misal, kamu mau bilang, kamu itu tipe perempuan yang nggak mau berjabat tangan dengan lawan jenis. Itu sama sekali nggak masalah. Kita bisa tukeran nama aja. Formalitas, kayak umumnya orang kenalan,” terang dirimu diakhiri dengan seulas senyum. Menampilkan deretan gigi seri yang rapi. Menyudutkan gadis tersebut untuk menepis ragu, dan akhirnya sudi bersalaman.

Semenjak peristiwa siang itu, semakin hari kamu dan Natya terlihat semakin akrab. Resmi menjadi kawan mengobrol. Seolah gendang telingamu bebal terhadap kabar burung tentang siapa Natya. Mendorong banyak pasang mata memandang aneh ketika kalian kerap duduk bersama. Kian menambah ramai kicau perihal betapa “murah” si gadis berkulit kuning oriental.

Sungguh beruntung, berita simpang siur tidak lantas membuatmu mundur pun menjauh. Malahan, selalu berusaha meyakinkan agar tidak menyimpulkan diri dari kacamata manusia lain. Tak usahlah peduli celoteh orang.

Kamu tidak pernah tahu bahwa dalam batin, gadis itu menjerit senang. Terkadang sampai bergumam sepanjang perjalanan pulang dari sekolah, “Ya, Tuhan ... apakah ini pertanda Engkau mulai mengabulkan doa-doaku?”

 

***

 

Sewaktu jam istirahat, Natya menemukanmu sedang bercengkerama dengan Ratu—teman sebangkunya. Duduk bersebelahan di meja lain. Tampak begitu asyik. Sesekali tertawa, tetapi dia yang seharusnya turut bahagia justru merasakan nyeri. Bagai ulu hati tengah tersayat sembilu.

Egois! Demikian umpat gadis itu pada diri sendiri. Sebab sebulan lalu, pangeran sempat bertanya, sudikah tuan puteri memberinya kesempatan untuk mengunjungi ruang kalbu. Namun, bibir putri senantiasa geming. Kekeuh mengisyaratkan kata tidak.

Kini, di saat pangeran yang pupus harapan mulai beranjak menjauh, barulah tuan puteri merasa bimbang. Inginnya jujur mengatakan butuh sosok pendamping. Di sisi lain, tidak siap untuk didampingi. Rumit.

“Nat, kamu kenapa?”

“Nggak. Nggak kenapa-kenapa.” Punggung tangan Natya lekas mengusap lelehan hangat di pipi.

“Nggak usah bohong, deh. Kita itu temenan udah lama. Sekarang, kamu jelas sedang kenapa-kenapa.”

“Swear, aku nggak kenapa-kenapa. Tadi cuma ....”

“Cuma apa?” Ratu segera memicingkan mata.

“Ah, berarti kamu emang nggak kenal aku, Rat. Merhatiin foto Oppa Song Joong-ki selalu bisa bikin hatiku meleleh.”

“Jadi, gara-gara ini doang kamu barusan mewek?” Sambil menunjuk semacam post card bergambar pemeran utama laki-laki drama Korea yang berjudul Descendant of The Sun.

“Iya.”

Ratu terkial, kemudian mengelus rambut lurus di hadapannya. “Cup, cup, cup. Udahan, ya, meweknya. Pulang sekolah nanti aku belikan es krim coklat. Mau?”

Si gadis pun mengangguk. Memasang tampang imut bak anak anjing mengiba. Pikirnya, jangan sampai Ratu curiga. Bagaimanapun, harus ikhlas melepas sesuatu yang dia genggam setengah hati. Mau tidak mau, mesti rela membiarkan orang lain menyambar kesempatan yang—mungkin—tidak akan datang dua kali.

Kamu.

 

***

 

Natya bersiap kembali masuk ke dimensi kelam yang sesaat pernah dia tinggalkan. Sekuat hati, mencoba mengkamuflasekan kepedihan dengan menampilkan seribu wajah. Ibarat perut keroncongan, namun memberikan daging durian pada orang lain. Sementara kerongkongan sendiri bertubi nyeri, memaksa menelan kulit penuh duri.

Kamu adalah bagian dari mereka yang—dara itu katakan—amat beruntung. Masih bisa merasakan adanya kasih, meresapinya, lalu jatuh cinta.

Sedangkan sosok seperti Natya, terlalu banyak peristiwa yang mengaburkan pemahamannnya tentang cinta. Seperti saat sang ayah tiba-tiba mengatakan ingin bercerai tanpa alasan jelas. Yang setelah lewat beberapa bulan, barulah gadis itu mengetahui akan dikaruniai seorang adik—dari rahim wanita selain ibu kandungnya.

Atau, perihal tantenya yang meminjam sejumlah dana dan berjanji akan mengembalikan tiga bulan ke depan. Dan ternyata, utang tersebut tidak kunjung dilunasi meski si tante tahu bahwa gadis tersebut—keponakannya sendiri—sampai menunggak uang SPP.

Mula-mula, tak tebersit niatan untuk menyerah. Tiada letih, gadis yang duduk di kelas 2 SMA itu terus berdoa agar nasib ibunya berubah baik. Lekas memiliki pencaharian baru dengan gaji lumayan besar sehingga cukup untuk membiayai kebutuhan setiap bulan. Tidak cuma soal uang sekolah, tapi juga tagihan air, listrik, asuransi kesehatan, membeli gula, telur, minyak goreng, dan sebagainya.

Namun, jalan takdir membuat ibu sang gadis keburu jatuh sakit sebelum sempat mencari lowongan lain. Terpaksa resign dari kantor. Kehilangan satu-satunya pekerjaan yang menjadi sumber penghasilan sepeninggal kepala keluarga mereka tak lagi memberi nafkah.

Semua jadi kocar-kacir. Bagai kapal tanpa nahkoda yang terempas badai. Oleng ke kanan dan kiri. Ditambah lambungnya menubruk karang hingga pecah berkeping-keping.

Kondisi jua memaksa gadis untuk acap bangun pagi buta demi membantu ibunya membungkus puluhan porsi mie ayam. Dibawa lalu dititipkan di kantin sekolah. Mematok harga murah, yang penting laku walau untung tak seberapa.

Nominal lima ribu rupiah, membikin dia sering di-bully dan memperoleh julukan “siswi gocengan”. Acap keluar masuk ruang guru BK karena bila sedang lepas kendali, sepasang tangannya tidak segan memberi pelajaran bagi siapa saja yang telah melecehkan harga diri.

Bukan perkara ringan dicap sebagai remaja bermasalah. Mengubah status seseorang menjadi tak pantas disanding. Baik sebagai teman, sahabat, atau ... kekasih.

 

***

 

“Tak peduli, betapa kelam masa lalumu. Terkadang, dengan mengingatnya bisa memberimu kekuatan besar.” Demikian yang pernah kamu ucapkan pada Natya. Membuat si gadis tetap tegar walau harus menjalani esok demi esok tanpa pemuda pujaannya.

Tarian jari-jari, menyusun hitam di atas putih, laksana obat mujarab untuk meluruhkan rasa sakit. Berkisah apa pun sekehendak hati. Termasuk, hal-hal yang sukar Natya ungkapkan secara langsung melalui celah bibir. Tentang gores yang membekas—memori yang sulit dilenyapkan selama hayat dikandung badan.

Ibunda gadis gegas mengerti akan gairah sang anak. Menghadiahi Natya sebuah laptop, meski tidak baru, tetapi masih lumayan mulus dan lengkap. Bekas pakai rekan sekantornya dulu yang ditawarkan murah. Dari benda itulah sang gadis mulai mengasah bakat serta menelurkan banyak naskah. Menghasilkan sekian honorarium yang sebagian besar dia sisihkan untuk membantu ibunya membiayai kebutuhan bulanan. Dan sisanya, menebus sepiring kecil red velvet cake slice with cream cheese frosting di sebuah bistro langganan setiap 2 minggu sekali.

Tiba-tiba saja, sosok yang tidak diharapkan berada di dekatku. Membuyarkan konsentrasi menulis.

“Maaf ... ini bener yang namanya Putri, bukan?”

“Hah?”

Pemuda itu langsung mengulurkan tangan. “Kenalin, aku Wika. Lengkapnya, Alexander Agung Wikanta.” Serasa kilas balik. Lidah ini mendadak kelu.

“Kok, diem?”

“Ki-kita, kan, sudah saling ke—“

“Nggak ada salahnya, kan, bagi dua orang yang sudah saling kenal untuk memulai lagi perkenalannya?”

“Tapi—“

“Seminggu yang lalu, aku berkunjung ke rumahmu. Dan ibumu banyak bercerita tentang kamu.”

“Kok, ibu nggak cerita apa-apa? Lagian, dari mana kamu tau alamatku?”

“Dari Queensa.”

“Jadi ....”

“Jadi, intinya, sampai kapan posisi tanganku harus terus begini? Selain malu sama waiter, pegel, tauk!” Dia mengulas senyum. Menampilkan deretan gigi seri yang rapi. Meningkatkan debaran jantungku.

Senyum itu, lagi-lagi, berhasil membuatku kenan menjabat tanganmu. Namun, kali ini, bibirku ikut mengembang walau bulir-bulir sukacita—tak mau mengalah—turut menyeruak keluar dari sudut mata.

“Aku ... Puteri. Puteri Natya Wiguna. Seorang amornesia. Gadis yang lupa caranya jatuh cinta.”

“Amornesia? Huh, penulis memang punya cara unik untuk menjabarkan siapa dirinya, ya?”

Terima kasih, Wika. Kamu mengubah kenangan tersebut jadi tak lagi ingin dilenyapkan. Dan semoga, dapat kita abadikan.

 

***

 

 

*Cerita fiksi ini merupakan karya orisinal penulis kontributor Gogirl!, penayangan sudah mendapatkan persetujuan dari penulis. Dilarang mengutip dan menyadur tulisan dari website ini. Bagi yang ingin mengirimkan karya tulis cerita untuk WEB STORY GOGIRL!, silahkan kirimkan ke esnoe.metha@gogirl.id, dengan format Word A4, font Calibri 11, spasi 1, minimal 900 kata, beserta data diri. Cerita harus orisinil hasil karya penulis, dan tidak menyinggung SARA. Cerita yang akan ditayangkan akan dihubungi oleh redaksi dan mendapatkan honorium. Cerita yang lewat dari 4 bulan tidak ditayangkan atau tidak dihubungi oleh pihak redaksi, maka berhak untuk mengirimkan ke media lain atau menggunakannya untuk kepentingan lain.* 

 

 

 

Written by Andhika Perdhana Mahardhika
Share to:

Comments

0 Comments
Sort By   
Silahkan login untuk menulis komentar